MAKASSAR – Aksi protes warga yang menanam pohon pisang di tengah jalan rusak mendadak jadi sorotan hangat.
Alih-alih mendapat respons perbaikan, fenomena ini justru memicu ketegangan publik setelah Gubernur Sulawesi Selatan mengeluarkan pernyataan tegas: jalan rusak tidak akan diperbaiki jika warga nekat menanam pohon pisang di sana, karena dianggap menghambat proses pengerjaan.
Sikap tersebut langsung memantik kritik keras dari akademisi. Seorang Dosen Universitas Hasanuddin (Unhas) mengingatkan bahwa pemerintahan daerah bukanlah sebuah sistem kerajaan.
Menurutnya, pemerintah harus selalu siap mendengarkan aspirasi dan menerima kritik, sekasar apa pun bentuknya di lapangan.
Di sisi lain, netizen justru menyoroti fungsi tak terduga dari pohon pisang tersebut. Bagi warga, menanam pohon di lubang jalan bukan sekadar aksi protes spontan, melainkan sebuah “rambu darurat” agar para pengendara terhindar dari kecelakaan fatal.
Ketimbang ego sektoral, publik berharap pemerintah lebih fokus pada solusi infrastruktur daripada mempermasalahkan simbol protes warga.
Kalau menurut Anda, apakah wajar pemerintah menolak perbaiki jalan hanya karena aksi tanam pohon pisang ini? Tulis pendapat Anda di kolom komentar!











