Sebuah rekaman video yang memperlihatkan aksi emosional seorang oknum anggota kepolisian di Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, mendadak jadi perbincangan hangat di media sosial.
Polisi berseragam lengkap tersebut nekat menggulingkan beberapa sepeda motor yang berjejer di area Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sinjai.
Insiden yang terjadi di Jalan Jenderal Sudirman, Kelurahan Biringere ini langsung viral setelah diunggah ke platform Facebook dan memicu perdebatan publik mengenai etika penertiban di ruang publik.
Berdasarkan kronologi yang dihimpun, aksi nekat ini diduga dipicu oleh kekesalan yang memuncak akibat maraknya parkir liar di kawasan rumah sakit.
Meskipun manajemen RSUD Sinjai telah menyediakan fasilitas kantong parkir resmi, banyak pengunjung dan pembesuk yang tetap memarkirkan motor mereka di pinggir jalan hingga memicu kesemrawutan.
Kondisi tersebut tidak hanya menyumbat akses masuk fasilitas kesehatan, tetapi juga menutup jalur keluar-masuk kendaraan warga sekitar.
Oknum polisi yang kebetulan tinggal di kompleks tersebut dikabarkan kesulitan memarkir mobil pribadinya, hingga akhirnya meledak dan menumbangkan motor-motor yang menghalangi jalan.
Fenomena ini langsung memancing reaksi beragam dari para netizen. Sebagian besar menyayangkan arogansi dan tindakan main hakim sendiri yang dilakukan oleh aparat penegak hukum tersebut, mengingat ada prosedur penertiban yang lebih elegan ketimbang merusak kendaraan warga.
Namun di sisi lain, tidak sedikit netizen yang justru memberikan pembelaan. Mereka mengaku maklum dan ikut gemas dengan tabiat para pengendara yang bebal dan hobi parkir sembarangan hingga egois mengabaikan kenyamanan publik serta akses darurat rumah sakit.
Hingga saat ini, pihak Polres Sinjai maupun manajemen RSUD Sinjai belum memberikan keterangan resmi terkait kelanjutan insiden maupun sanksi yang akan dijatuhkan.
Kasus ini menjadi alarm keras bahwa masalah keterbatasan lahan parkir dan kedisiplinan warga masih menjadi PR besar yang sering memicu konflik horizontal.
Bagaimana menurut pendapat Anda? Apakah tindakan tegas oknum polisi tersebut bisa dibenarkan demi memberi efek jera, atau justru sebaliknya? Tulis komentar Anda di bawah ini!










