Jakarta – Keputusan mengejutkan datang dari ranah kabinet pemerintahan. Nanik Sudaryati Deyang resmi menanggalkan jabatannya sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) pada Rabu (22/7/2026).
Yang menjadi sorotan tajam publik, masa jabatannya tercatat sangat singkat, yakni hanya 45 hari sejak ia dilantik oleh Presiden Prabowo Subianto pada awal Juni lalu.
Di balik pengunduran diri yang terkesan mendadak tersebut, muncul sebuah pernyataan yang memicu tanda tanya. Nanik secara blak-blakan mengaku enggan lagi berurusan dengan pengelolaan keuangan negara.
Ia bahkan menyematkan kata “trauma”. Benarkah ada tekanan besar atau konflik di balik pengelolaan dana fantastis Program Makan Bergizi Gratis (MBG)?
Ternyata, di balik pemilihan diksi yang tajam tersebut, tersimpan alasan medis yang serius.
Mundurnya tokoh yang dikenal vokal ini murni dilatarbelakangi oleh kondisi kesehatannya yang tak lagi memungkinkan untuk bekerja dengan ritme tinggi.
Nanik diharuskan fokus menjalani pengobatan intensif untuk penyakit jantung yang diidapnya.
Mengelola anggaran raksasa di tengah tenggat waktu program yang ketat dan ekspektasi publik yang tinggi dinilai terlalu berisiko bagi kondisi kardiovaskularnya.
Beban pikiran dan tekanan teknis inilah yang ia sebut sebagai sumber ‘trauma’.
Meski tak lagi memegang kemudi manajerial, bukan berarti Nanik angkat kaki sepenuhnya dari BGN. Presiden Prabowo secara khusus memintanya untuk tetap berada di lingkaran inti dengan menduduki kursi Dewan Pengawas BGN.
Sementara itu, tongkat komando Kepala BGN kini resmi diestafetkan kepada Sudaryono, yang sebelumnya menjabat sebagai Wakil Menteri Pertanian.
Dengan gaya khasnya yang lugas, Nanik berseloroh mengenai peran barunya. “Kalau sekadar memberi masukan atau ‘mencereweti’ program supaya berjalan lurus, saya masih sanggup. Asal jangan suruh saya pegang dan pusing urus uangnya lagi, saya trauma,” ujarnya.
Pernyataan ini disambut hangat oleh Sudaryono. Pada Jumat (24/7/2026), penerus estafet BGN tersebut merespons positif dan menyatakan pintu sangat terbuka bagi pengawasan serta evaluasi dari pendahulunya.
Sebelum resmi lengser dari posisi eksekutif, Nanik juga sempat meninggalkan ‘warisan’ pernyataan menohok terkait tudingan miring seputar program MBG.
Ia menepis keras spekulasi liar yang menyebut program andalan ini sebagai alat kampanye terselubung untuk Pemilu 2029.
“Mayoritas dari 82 juta penerima manfaat itu adalah balita dan anak SD. Tiga tahun lagi mereka belum punya hak suara untuk nyoblos. Jadi, sangat salah sasaran kalau dibilang alat politik,” tegasnya mematahkan opini miring tersebut.
Menutup masa baktinya yang singkat, ia menitipkan sebuah fakta lapangan yang kerap luput dari perhatian media besar. Saat program MBG terhenti sementara selama tiga minggu mengikuti jadwal libur sekolah, terjadi efek domino yang menghantam ekonomi akar rumput.
Petani dan peternak menjerit karena harga panen anjlok akibat daya serap yang menurun drastis, sementara pedagang sayur di pasar terpaksa membuang dagangannya yang membusuk.
Kini, publik menanti gebrakan Sudaryono dalam mengeksekusi program raksasa ini, tentu saja di bawah bayang-bayang pengawasan ketat Nanik Deyang yang kini siap ‘mencereweti’ dari kursi dewan pengawas.

















