JAKARTA — Subholding perkebunan kelapa sawit BUMN, PalmCo, tengah merancang manuver agresif untuk memaksimalkan potensi laba dari pasar global.
Langkah strategis ini diwujudkan melalui rencana ambisius untuk membangun fasilitas pengolahan atau refinery di luar negeri.
Perusahaan yang lahir dari penggabungan PTPN V, VI, dan XIII ke dalam PTPN IV ini tampaknya tidak lagi puas hanya sekadar menjadi eksportir barang mentah.
Transformasi Menuju Produk Bernilai Tinggi
Kepala Badan Pengaturan Badan Usaha Milik Negara (BP BUMN) sekaligus Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, membenarkan adanya perubahan arah bisnis tersebut.
Hal ini diungkapkan secara langsung oleh Dony usai menggelar pertemuan tertutup bersama jajaran Direksi PalmCo.
Menurutnya, perusahaan kini tengah menyiapkan langkah hilirisasi di pasar internasional sebagai sebuah strategi jangka panjang.
Target utama dari ekspansi ini adalah membangun refinery agar PalmCo mampu memproduksi refined palm oil secara mandiri di negara tujuan.
Taktik pengolahan lanjutan ini diyakini akan meningkatkan nilai tambah produk sawit perusahaan secara sangat signifikan.
Memanfaatkan Kelebihan Pasokan Domestik
Rencana ekspansi lintas negara ini sama sekali tidak mengorbankan kebutuhan minyak sawit di dalam negeri.
Langkah agresif ini justru baru diambil setelah perusahaan memastikan kewajiban pasar domestik atau Domestic Market Obligation (DMO) terpenuhi dengan aman.
Kelebihan pasokan dari sisa kuota DMO inilah yang akan dimanfaatkan secara maksimal untuk menggenjot penetrasi ekspor sebagai langkah tahap pertama.
Jika pada periode sebelumnya mayoritas produksi hanya berputar di pasar lokal, kini PalmCo siap menjadikan kelebihan pasokan tersebut sebagai amunisi utama.
Pola pikir baru ini menandai pergeseran penting dari sekadar menjual sisa komoditas curah menjadi penciptaan produk akhir yang jauh lebih menguntungkan.
Bersaing Ketat di Panggung Global
Pembangunan pabrik refined oil di luar negeri juga membawa misi besar untuk memperkuat posisi Indonesia.
Persaingan industri kelapa sawit global saat ini memang menuntut para pemain besar untuk menawarkan produk yang sudah diolah dan siap pakai.
Dengan memiliki fasilitas produksi di negara tujuan, rantai pasok perusahaan akan menjadi jauh lebih efisien.
Efisiensi biaya logistik dan status produk jadi inilah yang pada akhirnya akan memperlebar margin keuntungan PalmCo di pasar internasional.
Danantara tentunya menaruh harapan besar agar manuver transformasi PalmCo ini bisa memperkuat daya saing industri sawit nasional di kancah dunia.














